Landasan Keilmuan Profesi

LANDASAN KEILMUAN PROFESI

  1. A.    PENGERTIAN ILMU

Ilmu merupakan sebuah pengetahuan tentang sebab akibat atau asal usul yang memiliki ciri adanya suatu metedologi yang harus dicapai secara  logis dan koheren, memiliki hubungan dengan tanggung jawab ilmuwan, bersifat universal, memiliki objektivitas tanpa disisipi oleh prasangka-prasangka subjektif, dapat dikomunikasikan, kritis dimana tidak ada teori ilmiah yang definitif, terbuka bagi peninjauan krotis dan berguna sebagai wujud hubungannya antara teori dan praktek.

Dalam memahami sebuah ilmu terdapat sebuah aktivitas yang berpangkal pada konsep struktur pemikran manusia. Pembentukan sebuah konsep bterkait dengan 4 hal yaitu:

  • Kenyataan dimana merupakan sebuah misteri apabila tidak diungkapkan dalam bahasa
  • Teori yang merupakan tingkat pengertian seseorang yang sudah teruji sehingga dapat dipakai dalam pemahaman suatu hal
  • Kata-kata yang merupakan cerminan ide-ide yang diungkapkan secara verbal
  • Pemikiran yang merupakan hasil akan manusia yang diekspresikan dalam bentuk bahasa

Sedangkan ilmu pengetahuan merupakan sebuah hasil pemikiran manusia yang dapat menyesuaikan antara hukum pemikiran dengan dunia luar yang juga mengandung subjektivitas dan objektivitas dari sesuatu yang dikertahui dengan didasari oleh pemikiran manusia.

  1. B.     KARAKTERISTIK  ILMU

Sifat/karakter ilmu keperawatan meliputi beberapa hal, yaitu:

  1. Pengetahuan umum (publik knowledge). Ilmu keperawatan dapat dipelajari oleh siapa saja yang berminat. Ilmu keperawatan dapat dipublikasikan dengan bahasa yang sarat dengan unsur informatif dan emotif.
  2. Objektif. Ilmu keperawatan dapat menginterpretasikan objek yang sama dengan cara yang sama sehinggadiperoleh hasil yang sama. Misalnya, ada tiga orang perawat yang melaksanakan tindakan keperawatan yang sama, yaitu memasang oksigen. Hasil yang mereka capai akan sama, yakni memenuhi kebutuhan oksigen pasien.
  3. Abstraksi. Ilmu keperawatan ditujukan bagi umat manusia yang tidak lepas dari kebutuhan. Ini tertuang dalam sejumlah konsep tentang manusia, yakni manusia sebagai makhluk holistik (bio-psiko-sosio-spiritual), manusia sebagai makhluk yang unik, manusia sebagai makhluk yang memiliki kebutuhan, dan manusia sebagai makhluk dengan sistem terbuka.
  4. Konseptual. Ilmu keperawatan mempunyai konsepsi yang membangun teori keperawatan. Konsepsi ini antara lain dikemukakan oleh sejumlah ahli.
  5. Generalisasi. Dengan adanya konsep manusia dan teori keperawatan, ilmu keperawatan dapat dipublikasikan sehingga bisa diketahui dan diterima oleh umum. Artinya, masyarakat dapat mengenal ilmu keperawatan malalui realitas asuhan keperawatan atau melalui bentuan yang diberikan.
  1. C.    SUMBER ILMU

Ilmu diperoleh melalui beberapa cara yaitu :

  1. Rasional

Kaum rasionalis mengembangkan sebuah paham yang kita kenal dengan sebutan rasionalisme. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indra dalam memperoleh pengetahuan. Pengalaman indra  diperlukan untuk merangsang akal dan memberikan bahan yang membuat akal dapat bekerja. Akal mengatur bahan tersebut sedemikian rupa sehingga terbentuk sebuah pengetahuan yang benar. Jadi, rasio merupakan potensi yang dimiliki manusia untuk memahami proses dan sebab musabab kejadian. Kemampuan rasio ini adalah kemmampuan yang sangat penting bagi kehidupan manusia.

Rasio merupakan landasan bagi terbentuknya ilmu pengetahuan empiris manusia. Rasio kemudian dikembangkan menjadi logika yang didasarkan atas premis-premis yang kuat. Logika berbicara mengenai norma-norma atau kaidah-kaidah berpikir yabg benar agar diperoleh pengetahuan yang benar. Jadi, ilmu pengetahuan harus dikembangkan  melalui dasar-dasar logika yang kuat dan beralasan sehingga kebenaran dapat dicapai.

  1. Empiris

Kata empiris berasal dari bahasa Yunani empereirikos yang artinya pengalaman, yaitu pengalaman indrawi (Tafsir,2001). Kelompok yang berpegang pada paham empiris ini disebut empirisme. Tokohnya adalah John Locke (1632-1704). Kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia bukan didapat melalui penlaran rasional yang abstrak, melainkan melalui pengalaman konkret.

Masalah utama yang timbul dalam penyusunan pengetahuan secara empiris adalah kecenderungan pengetahuan tersebut menjadi suatu kumpulan fakta. Sayangnya kumpulan fakta tersebut belum tentu konsisten. Metode empiris mempunyai beberapa kelemahan yaitu indra manusia yang terbatas, indra yang menipu dan objek yang menipu (mis., fatamorgana).

Kekeliruan indra harus dikoreksi melalui eksperimen. Eksperimen disini tentu harus mempunysi ukursn yang jelas dan baku. Dengan kata lain, meode empiris merupakan suatu bukti terukur. Karenanya empiris harus dijelaskan melalui pandangan rasional.

  1. Instuisi/Wahyu/llham

Instuisi merupakan pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang pikirannya sedang terpusat pada suatu masalah, tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalah tersebut tanpa harus melalui proses berpikir yang panjang.kegiatan intuitif ini sifatnya sangat personal dan tidak bisa diramalkan. Dengan demikian, instuisi bisa kita sebut petunjuk batin dan pengingat dari dalam. Karena ditangkap oleh manusia dalam wujud perasaan, intuisi yang muncul bisa saja benar, bisa pula keliru.

Wahyu merupakan kalam Tuhan yang diturunkan kepada umat manusia melalui nabi dan rasul-Nya. Wahyu diturunkan untuk memberi penjelasan yang benat tentang alam, kehidupan, dan manusia. Wahyu disusun dalam satu kumpulan wahyu yang disebut kitap suci. Wahyu berisi prinsip-prinsip hidup dan kehidupan.Karenanya, terdapat keselarasan antara agama (wahyu) dan akal, sebaba keduanya merupakan pemberian Tuhan.

Contohnya adalah Ibnu Rusyd, beliau bukan hanya terkenal sebagai ahli agama islam tetai juga ilmu-ilmu eksakta, seperti matematika, astronomi, filsafat, logika dan kedokteran.

  1. D.    FUNGSI ILMU
    1. Fungsi Deskripsi

Memiliki makna bahwa ilmu dapat menjelaskan berbagai gejala alam yang terjadi. Idealnya, suatu disiplin ilmu harus mampu menjelaskan berbagai hal yang masuk ke dalam bidang garapannya. Sebagai contoh, ilmu kimia harus mampu menjelaskan seluk-beluk perkimiaan serta pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Jadi, fungsi deskripsi membuat suatu ilmu bias diterima oleh masyarakat umum, bukan sebatas kalangan yang berkecimpung di bidang keilmuan itu saja sebab ilmu bersifat universal.

  1. Fungsi Eksplanasi

Artinya, ilmu tersebut dapat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian kegiatan untuk menguasai gejala tersebut. Selain berfungsi menjelaskan ilmu juga harus mampu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi. Contohnya ilmu kedokteran. Selain menjelaskan penyebab timbulnya penyakit, ilmu ini juga harus mampu memaparkan strategi atau cara-cara untuk mencegah penyakit tersebut.

  1. Fungsi Prediksi

Artinya, ilmu dapat meramalkan kejadian yang akan terjadi secara ilmiah. Salah satu cara untuk memperoleh ilmu adalah melalui pengalaman (empiris) dan upaya uji coba yang kemudian disimpulkan hasilnya. Kesimpulan ini menjadi pedoman dalam menjelaskan berbagai fenomena alam. Karenanya, ilmu harus mampu meramalkan hal yang mungkin akan terjadi secara ilmiah. Kaitannya dengan kesehatan, ilmu harus mampu meramalkan timbulnya suatu penyakit secara ilmiah. Sebagai contoh, ilmu kesehatan harus mampu meramalakan bahwa jika seseorang berperilaku jorok, kemungkinan ia bias menderita diare.

  1. Fungsi Kontrol

Artinya. Ilmu dapat mengendalikan gejala alam. Ilmu merupakan alat yang dipergunakan dalam usaha mempengaruhi tingkah laku dan tindak tanduk orang lain. Ilmu juga mempunyai relasi dengan proses-proses sosialisasi suatu masyarakat.

  1. E.     KEPERAWATAN SEBAGAI ILMU

Ilmu keperawatan ditinjau dari sudut filsafat ilmu (philosophy of science) memenuhi karakteristik dan spesifikasi sebagai sebuah pengetahuan yang berdimensi dan bersifat ilmiah.Secara umum, cabang pengetahuan dibedakan menurut hal-hal yang diketahuinya (ontologi), cabang pengetahuan tersebut diperoleh dan disusun (epistemologi), serta nilai yang terkait dengan pengetahuan tersebut (aksiologi).

Epistemologi adalah asas yang berkaitan dengan cara memperolrh dan menyusun materi pengetahuan menjadi suatu ilmu. Secara detail dapat dilihat dari sifat pengetahuan ilmiah dan proses pembentukan pengetahuan ilmiah.Sifat pengetahuan ilmiah antara lain (Suriasumantri, 1996):

  1. Pengetahuan adalah milik umum.Artinya, pengetahuan itu disampaikan kepada masyarakat melalui publikasi ilmiah.
  2. Objektif. Artinya, setiap orang mempelajari objek yang sama, akan memperoleh kesimpulan yang sama.
  3. Abstrak. Artinya, ilmu pengetahuan dapat meredukasi realitas menjadi konsep.
  4. Konseptual. Artinya, ilmu memiliki konsepsi yang membangun teori-teori.
  5. Generalisasi. Artinya, kajian-kajian dari pengetahuan dapat diterima oleh umum.

Metode ilmiah memproses pengetahuan dalam tiga aspek yaitu keabsahan, kebenaran dan penyusunan.Ditentukan berdasarkan syarat yang harus dipenuhi oleh suatu pengetahuan yaitu logis, analis, dan sistematis.Kebenaran suatu pengetahuan terletak pengujian empiris. Pengetahuan yang sifatnya logis, analitis sistematis, dan teruji secara empiris bisa dipastikan merupakan pengetahuan yang absah dan benar secara ilmiah.

Proses penyusunan pengetahuan memerlukan pikiran dasar yang melandasi pemikiran dan tubuh pengetahuan teoritis. Pikiran dasar terdiri atas postulat, asumsi, dan prinsip.

.Postulat merupakan anggapan tentang suatu objek yang merefleksikan sudut pandang tertentu yang tidak perlu diverifikasi secara empiris guna menentukan benar atau salahnya.

Asumsi adalah pertanyaan dasar tentang realitas yang menjadi objek telaahan.

Prinsip merupakan pernyataan dasar mengenai tindakan yang dipilih. Dalam hal ini, prinsip dibangun diantara postulat dan asumsi.

Ilmu,ditinjau dari aspek aksiologi, merupakan cara penggunaan/pemanfaatan pengetahuan ilmiah. Asas dalam keilmuan tersebut digunakan/ dimanfaatkan untuk kemasalahatan umat manusia. Karenanya, pengetahuan ilmiah yang telah diperoleh akan disusun dan dipergunakan secara komunal dan universal.Kormunal berarti ilmu merupakan milik bersama sehinga setiap orang berhak memanfaatkannya menurut kebutuhan masing-masing.Universaal berarti ilmu tersebut dapat diterima oleh semua kalangan, tanpa dibatasi oleh ras, ideologi, atau agama.

Aksiologi disebut juga sebagai teori nilai, yakni teori yang membicarakan kegunaan dari suatu ilmu, termasuk asas moral yang terkandung dari dalamnya. Setiap individu atau masyarakat mempunyai seperangat nilai yang dianut dan dijadikan pegangan.

Nilai personal setiap individu merupakan hasil dari observasi tingkah laku dan sikap orang tua, guru, serta interaksi dengan kultur, agama, dan lingkungan sosialnya.asas moral pada hakikatnya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

1)      Asas moral yaitu yang membentuk membentuk tanggung jawab profesional.

2)      Asas moral yaitu yang membentuk tangung jawab sosial.

Tanggung jawab profesional lebih ditujukkan kepada masyarakat. Ini terkait dengan landasan epistemologi, yaitu kebenaran, kejujuran, tanpa kepentingan langsung, rasional, objektif, kritis, terbuka, pragmatis, dan netral. Tanggung jawab sosial merupakan pertanggung jawaban ilmuan kepada masyarakat. Ini menyangkut asa moral mengenai pemilihan etis terkait objek penelaahan keilmuan dan penggunaan pengetahuan ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Konsep Dasar Keperawatan. EGC : Jakarta

http://kangmoes.com/artikel-tips-trik-ide-menarik-kreatif.definisi/pengertian-ilmu.html

http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/13/hakikat-ilmu/

http://kangarul.wordpress.com/2009/07/31/pengertian-dan-fungsi-bahasa/

This entry was posted on Thursday, November 10th, 2011 at 12:39 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Leave a Reply